Tugas
Oleh hasanuddin
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً،
وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ
تَعَالَى : ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا
صَالِحاً – وَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ – ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ
أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ
بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ . [رواه مسلم]
Penjelasan:“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik”. Yakni: Maha Baik pada dzat, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Dan Dia hanya menerima yang baik, pada dzatnya dan dalam hal perolehannya. Adapun hal yang buruk pada dzatnya, contohnya khamr (minuman keras). Atau dalam hal perolehannya, contohnya adalah mendapatkan harta dengan jalan riba, maka Allah tidak menerima hal-hal tersebut.“Sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mu’minin untuk melakukan perintah yang disampaikan kepada para nabi.”Lalu beliau membaca firman Allah subhanahu wata’ala,
يَا
أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً
“Hai
rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amalan-amalan
yang shaleh.”Allah
memerintahkan kepada para rasul yang mana perintah ini juga berlaku untuk kaum
mukminin, yaitu agar mereka memakan dari yang baik-baik, adapun yang jelek/busuk
sesungguhnya hal itu diharamkan atas mereka, sebagaimana firman Allah di dalam
mensifatkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,وَيُحِلُّ
لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ“Dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk.” (Al A’raaf: 157).Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan seseorang yang memakan
barang haram bahwasanya ia akan terjauhkan dari terkabulkan doanya, walaupun ia
mendapati sebagian sebab terkabulnya doanya, seperti melakukan safar yang
panjang dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit, dan memohon,
“Wahai Rabb, wahai Rabb”, (akan tetapi) makanan, minuman, pakaian, dan
ditumbuhbesarkan oleh hal-hal yang haram, maka dari mana akan terkabulkan
doanya. Orang lelaki ini bersifat dengan empat sifat:1.
Bahwasanya ia melakukan safar yang panjang dan safar itu merupakan tempat
dikabulkannya doa bagi orang yang berdoa.2.
Bahwasanya rambutnya kusut masai berdebu, dan Allah subhanahu wata’ala berada
di hadapan orang-orang yang hati mereka itu luluh redam karenanya dan Dia
memandang kepada hamba-Nya pada hari Arafah seraya berfirman, “Mereka
mendatangiKu dalam keadaan kusut masai berdebu.” [2]Dan kondisi ini juga
berfungsi sebagai sebab dikabulkannya doa.3.
Bahwasanya ia menengadahkan kedua tangannya ke langit dan membentangkan kedua
tangan ke langit, itu juga penyebab diijabahinya doa, karena sesungguhnya Allah
subhanahu wata’ala malu kepada hamba-Nya, apabila ia mengangkat kedua tangannya
kemudian menolaknya (tidak mengabulkannya). [3]4. Doanya
kepada-Nya (Wahai Rabb, Wahai Rabb) ini adalah bentuk tawassul kepada Allah
dengan kerububiyahan-Nya, dan itu bagian dari sebab terkabulkannya doa, akan
tetapi doanya tidak dikabulkan, dikarenakan makanan, minuman, pakaiannya, serta
dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
menganggapnya jauh untuk dikabulkannya doa tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan.”Faedah
yang bisa diambil dari hadits ini adalah:1.
Tersifatinya Allah dengan sifat Ath Thayyib secara dzat dan perbuatan.2.
Pensucian Allah subhanahu wata’ala dari segala bentuk kekuarangan.3. Bahwa
amalan itu ada yang diterima dan ada pula yang tidak diterima.4. Bahwa
Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan kepada para hamba-Nya, baik dari
kalangan para rasul atau umatnya untuk makan dari makanan yang baik dan
mensyukuri Allah subhanahu wata’ala dengannya.5.
Bersyukur merupakan amalan shaleh, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحاً
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah
amalan-amalan yang shaleh.”Dan Allah
subhanahu wata’ala berfirman untuk orang-orang mukmin,
كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ
لِلّهِ
“Makanlah
di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah
kepada Allah.” (Al Baqarah: 172)Maka ini
menunjukkan bahwa bersyukur adalah amalan shaleh.6.
Termasuk persyaratan dikabulkannya doa ialah menjauhi makanan yang diharamkan,
sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang
makanan, pakaian, dan dagingnya yang ditumbuhkan dengan barang-barang haram,
“Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan.”7. Di
antara penyebab dikabulkannya doa adalah seseorang berada di dalam safar.8. Di
antara penyebab dikabulkannya doa adalah mengangkat kedua tangannya kepada
Allah.9. Di
antara penyebab dikabulkannya doa adalah bertawassul kepada Allah dengan
kerububiyahan karena dengan itulah Allah menciptakan makhluk-Nya dan mengatur.10.
Bahwasanya para rasul juga dibebani untuk menjalankan ibadah-ibadah sebagaimana
kaum mukminin juga demikian.11.
Wajibnya bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan-Nya sesuai dengan
firman-Nya, “Dan bersyukurlah kepada Allah.”12.
Seyogyanya bahkan wajib bagi setiap manusia untuk menjalankan sebab-sebab yang
dengan sebab-sebab itu diperolehnya maksud dan menjauhi sebab-sebab yang
menjadikan terhalangnya apa yang dimaukan.Catatan
kaki:[1]
Shahih. Dikeluarkan oleh Muslim (Az Zakah/1015/Abdul Baqi)[2]
Shahih. Lihat Shahihul Jami’ (1360, 1867, 1868)[3]
Shahih. dikeluarkan oleh Abu Dawud (Ash Shalat/1488), At Tirmidzi (Ad
Da’awadi/3556), Ibnu Majah (Ad Du’a/3865), dan dishahihkan Al Albani di dalam
Shahih Ibnu Majah 3117.