BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Gairah
umat Islam dalam al-Quran jika diperhatikan dewasa ini semakin meningkat dengan
lahirnya banyak lembaga tahsin dan tahfidz, pesantren tahfidz atau bahkan di
lembaga-lembaga pendidikan formal seperti sekolah dasar dan menengah. Oleh
karena itu perlu disiapkan segala perangkatnya, sistem dan manajemennya
melahirkan para hafidz dan hafidzah dari usia
anak-anak. Mengingat membaca al-Quran dengan tajwid wajib hukumnya.
Untuk
menarik minat mereka dibutuhkan inovasi pembelajaran menghafal Al-Qur‟an yang fun dan
interaktif serta
paham dengan kondisi psikologis Anak. Memang menyelenggarakan pembelajaran menghafal Al-Qur’an
bagi usia
anak-anak bukanlah persoalan mudah, melainkan dibutuhkan pemikiran dan analisis mendalam dari hal perencanaan, metode,
alat dan sarana prasarana, target
hafalan,
evaluasi hafalan dan sebagainya. Oleh karena itu dibutuhkan pula manajemen pembelajaran Al- Qur’an yang tepat dan
betul-betul dapat memahami kondisi anak.
Dari
latar belakang masalah yang telah
terdeskripsi
secara rinci, dalam makalah ini lebih menitik beratkan pada manajemen
pembelajaran al-Qur’an
yang
terdiri dari bagaimana bentuk perencanaan,
pelaksanaan
dan evaluasi yang dilakukan.
Mengapa
perlu manajeman? Allah
swt menciptakan sesuatu dengan keteraturan. Nabi Muhammad SAW juga berdakwah
mengajarkan al-Quran kepada para sahabat dengan teratur, dan demikian juga
generasi setelah Rasulullah, yaitu para tabiin, tabiit Tabiin. Secara tersurat
al-Quran mengatur tentang manajemen, hanya saja istilah manajemen ditemukan
oleh para ilmuan, yang pada awalnya digunkan di dunia bisnis atau perusahaan
kemudian ke dunia pendidikan.
B.
Rumusan
Masalah
-
Bagaimana
Pembelajaran Al-Quran di Dunia Pendidikan?
BAB
II
MANAJEMEN
PEMBELAJARAN AL QUR’AN
1. Manajemen Pembelajaran
a. Pengertian Manajemen pembelajaran
Manajemen
pembelajaran terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan pembelajaran. Secara
bahasa (etimologi) manajemen berasal dari kata kerja “to manage” yang
berarti mengatur.Adapun menurut istilah (terminologi) terdapat banyak pendapat
mengenai pengertian manajemen salah satunya menurut George R. Terry Manajemen
adalah suatu proses khas yang terdiri atas tindakan-tindakan perncanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian untuk menentukan serta mencapai
tujuan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya.
Sedangkan
menurut Hanry L. Sisk mendefinisikan Management is the coordination of all
resources through the processes of planning, organizing, directing and
controlling in order to attain stted objectivies. Artinya manajemen
adalah Pengkoordinasian untuk semua sumber-sumber melalui proses-proses
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan di dalam ketertiban
untuk tujuan. Selanjutnya, mengenai pembelajaran berasal dari kata “instruction”
yang berarti “pengajaran”. Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses
interaksi antara anak dengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak dengan pendidik.
Menurut
Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem pendidikan. Pembelajaran
adalah proses interaktif peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Dari beberapa pengertian diatas dapat dikatakan bahwa
manajemen pembelajaran merupakan usaha untuk mengelola pembelajaran yang
meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran guna mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan efesien.
b. Fungsi-fungsi
Manajemen Pembelajaran
1.
Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan
adalah proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang
diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan
dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Dalam konteks
pembelajaran perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi
pelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode
pembelajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan
pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
PP
RI no. 19 th. 2005 tentang standar nasional pendidikan pasal 20 menjelaskan
bahwa; ”Perencanaan proses pembelajaran memiliki silabus, perencanaan
pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurangkurangnya tujuan pembelajaran,
materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.
Sebagai perencana, guru hendaknya dapat mendiaknosa kebutuhan para siswa
sebagai subyek belajar, merumuskan tujuan kegiatan proses pembelajaran dan
menetapkan strategi pengajaran yang ditempuh untuk merealisasikan tujuan yang
telah dirumuskan.Perencanaan itu dapat bermanfaat bagi guru sebagai kontrol
terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara pengajarannya.9
Agar
dalam pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik untuk itu guru perlu
menyusun komponen perangkat perencanaan pembelajaran antara lain:
a)
Menentukan Alokasi Waktu dan Minggu efektif
Menentukan alokasi
waktu pada dasarnya adalah menetukan minggu efektif dalam setiap semester pada
satu tahun ajaran. Rencana alokasi waktu berfungsi untuk mengetahui berapa jam
waktu efektif yang tersedia untuk dimanfaatkan dalam proses pembelajaran dalam
satu tahun ajaran. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar minimal yang harus dicapai sesuai dengan
rumusan standard isi yang ditetapkan.
b) Menyusun Program Tahunan (Prota)
Program tahunan (Prota)
merupakan rencana program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang
dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan, yakni dengan
menetapkan alokasi dalam waktu satu tahun ajaran untuk mencapai tujuan (standar
kompetensi dan kompetensi dasar) yang telah ditetapkan. Program ini perlu
dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakan
pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya.
c)
Menyusun Program Semesteran (Promes)
Program semester
(Promes) merupakan penjabaran dari program tahunan. Kalau Program tahunan
disusun untuk menentukan jumlah jam yang diperlukan untuk mencapai kompetensi
dasar, maka dalam program semester diarahkan untuk menjawab minggu keberapa
atau kapan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar itu dilakukan.
d) Menyusun Silabus Pembelajaran
Silabus adalah bentuk
pengembangan dan penjabaran kurikulum menjadi rencana pembelajaran atau susunan
materi pembelajaran yang teratur pada mata pelajaran tertentu pada kelas
tertentu.13
Komponen dalam menyusun silabus memuat antara lain identitas mata pelajaran
atau tema pelajaran, standard kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), materi
pelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi, penilaian,
alokasi waktu, dan sumber belajar.
e) Menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) atau ada yang dalam bahasa lain disebut Lesson Plan (LP) disusun
untuk setiap Kompetensi dasar (KD) yang dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih Komponen-komponen dalam menyusun RPP meliputi: a)
Identitas Mata Pelajaran; b) Standar Kompetensi; c) Kompetensi Dasar; d)
Indikator Tujuan Pembelajaran; e) Materi Ajar; f) Metode Pembelajaran; g)
Langkah-langkah Pembelajaran; h) Sarana dan Sumber Belajar; i) Penilaian dan
Tindak Lanjut. Selain itu dalam fungsi perencanaan tugas kepala sekolah sebagai
manajer yakni mengawasi dan mengecek perangkat yang guru buat, apakah sesuai
dengan pedoman kurikulum ataukah belum. Melalui perencanaan pembelajaran yang baik,
guru dapat mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan siswa dalam belajar.
2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan
pembelajaran merupakan proses berlangsungnya belajar mengajar di kelas yang
merupakan inti dari kegiatan di sekolah. Jadi pelaksanaan pengajaran adalah
interaksi guru dengan murid dalam rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada
siswa dan untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dalam
fungsi pelaksanaan ini memuat kegiatan pengelolaan dan kepemimpinan
pembelajaran yang dilakukan guru di kelas dan pengelolaan peserta didik.,
Selain itu juga memuat kegiatan pengorganisasian yang dilakukan oleh kepala
sekolah seperti pembagian pekerjaan ke dalam berbagai tugas khusus yang harus
dilakukan guru, juga menyangkut fungsi-fungsi manajemen lainnya. Oleh karena
itu dalam hal pelaksanaan pembelajaranmencakup dua hal yaitu, pengelolaan kelas
dan peserta didik serta pengelolaan guru. Dua jenis pengelolaan tersebut secara
rinci akan diuraikan sebagai berikut: Pengelolaan kelas adalah satu upaya
memperdayakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses
interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.17
Berkenaan dengan pengelolaan kelas sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus
diperhatikan, yaitu ruang belajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempat
duduk, yaitu ruang belajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempat duduk,
penerangan, suhu, pemanasan sebelum masuk ke materi yang akan dipelajari
(pembentukan dan pengembangan kompetensi) dan bina suasana dalam pembelajaran
a)
Pengelolaan kelas dan peserta didik
Guru dapat mengatur dan
merekayasa segala sesuatunya, situasi yang ada ketika proses belajar mengajar
berlangsung. Menurut Nana Sudjana yang dikutip oleh Suryobroto pelaksanaan
proses belajar mengajar meliputi pentahapan sebagai berikut. Menurut Nana
Sudjana yang dikutip oleh Suryobroto pelaksanaan proses belajar mengajar
meliputi pentahapan sebagai berikut:
(1)
Tahap pra instruksional
Yaitu tahap yang
ditempuh pada saat memulai sesuatu proses belajar mengajar: Guru menanyakan
kehadiran siswa dan mencatat siswa yang tidak hadir; Bertanya kepada siswa
sampai dimana pembahasan sebelumnya; Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya dari pelajaran yang
sudah disampaikan; Mengulang bahan pelajaran yang lain secara singkat.
(2)
Tahap instruksional
Yakni tahap pemberian
bahan pelajaran yang dapat diidentifikasikan beberapa kegiatan sebagai berikut:
Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa;
Menjelaskan pokok materi yang akan dibahas; Membahas pokok materi yang sudah
dituliskan; Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan
contohcontoh yang kongkret, pertanyaan, tugas; Penggunaan alat bantu pengajaran
untuk memperjelas pembahasan pada setiap materi pelajaran; Menyimpulkan hasil
pembahasan dari semua pokok materi.
(3)
Tahap evaluasi dan tindak lanjut
Tahap ini bertujuan
untuk mengetahui keberhasilan tahap instruksional, kegiatan yang dilakukan pada
tahap ini yaitu: Mengajukan pertanyaan kepada kelas atau kepada beberapa murid
mengenai semua aspek pokok materi yang telah dibahas pada tahap instruksional;
Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa (kurang dari
70%), maka guru harus mengulang pengajaran; Untuk memperkaya pengetahuan siswa mengenai
materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas atau PR; Akhiri pelajaran
dengan menjelaskan atau memberitahukan pokok materi yang akan dibahas pada pelajaran
berikutnya.
b)
Pengelolaan guru
Pelaksanaan sebagai
fungsi manajemen diterapkan oleh kepala sekolah bersama guru dalam pembelajaran
agar siswa melakukan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
telah direncanakan. Sehubungan dengan itu, peran kepala sekolah memegang
peranan penting untuk menggerakkan para guru dalam mengoptimalkan fungsinya
sebagai manajer di dalam kelas Guru adalah orang yang bertugas membantu murid
untuk mendapatkan pengetahuan sehingga ia dapat mengembangkan potensi yang
dimilikinya. Guru sebagai salah satu komponen
dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), memiliki posisi sangat menentukan
keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola,
melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Guru harus dapat menempatkan diri
dan menciptakan suasana kondusif, yang bertanggung jawab atas pertumbuhan dan
perkembangan jiwa anak. Dalam rangka mendorong peningkatan profesionalitas
guru, secara tersirat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun
2003 pasal 35 ayat 1 mencantumkan standar nasional pendidikan meliputi: isi,
proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana,
pengelolaan, pembiayaan dan penilaian. Standar yang dimaksud dalam hal ini
adalah suatu kriteria yang telah dikembangkan dan ditetapkan oleh program
berdasarkan atas sumber, prosedur dan manajemen yang efektif sedangkan kriteria
adalah sesuatu yang menggambarkan keadaan yang dikehendaki. Kompetensi yang
dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya,
kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dari perbuatan
secara profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Secara operasional,
ketika proses pelaksanaan juga menyangkut beberapa fungsi manajemen lainnya
diantaranya yaitu:
a. Fungsi Pengorganisasian (organizing)
pembelajaran
Selain fungsi perencanaan,
terdapat pula fungsi pengorganisasian dalam kegiatan pembelajaran yang dimaksudkan
untuk menentukan pelaksana tugas dengan jelas kepada setiap personil sekolah
sesuai bidang, wewenang, mata pelajaran, dan tanggung jawabnya. Dengan
kejelasan tugas dan tanggung jawab masingmasing unsur dan komponen pembelajaran
sehingga kegiatan pembelajaran baik proses maupun kualitas yang dipersyaratkan
dapat berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Pengorganisasian
pembelajaran menurut Syaiful Sagala meliputi beberapa aspek:
1)
Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan personel yang diperlukan untuk
penyusunan kerangka yang efisien dalam melaksanakan rencana-rencana melalui suatu
proses penetapan pelaksanaan pembelajaran yang diperlukan untuk
menyelesaikannya.
2)
Mengelompokkan komponen pembelajaran dalam struktur sekolah secara teratur.
3)
Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi pembelajaran.
4)
Merumuskan dan menetapkan metode dan prosedur pembelajaran.
5)
Memilih, mengadakan latihan dan pendidikan dalam upaya pertumbuhan jabatan guru
dilengkapi dengan sumber-sumber lain yang diperlukan. Penerapan fungsi
pengorganisasian dalam manajemen pembelajaran yakni kepala sekolah sebagai
pemimpin bertugas untuk menjadikan kegiatan-kegiatan sekolah yang menjadi tujuan
sekolah dapat berjalan dengan lancar. Kepala sekolah perlu mengadakan pembagian
kerja yang jelas bagi guru-guru yang menjadi anak buahnya. Dengan pembagian
kerja yang baik, pelimpahan wewenang dan tanggungjawab yang tepat, serta
mengingat prinsip-prinsip pengorganisasian, kiranya kegiatan sekolah akan
berjalan dan tujuan dapat tecapai. Pengorganisasian pembelajaran ini memberikan
gambaran bahwa kegiatan belajar dan mengajar mempunyai arah dan penanggungjawab
yang jelas. Artinya dilihat dari komponen yang terkait dengan pembelajaran pada
institusi sekolah memberi gambaran bahwa jelas kedudukan kepala sekolah dalam
memberikan fasilitas dan kelengkapan pembelajaran, dan kedudukan guru untuk
menentukan dan mendesain pembelajaran dengan mengorganisasikan alokasi waktu,
desain kurikulum, media dan kelengkapan pembelajaran, dan lainnya yang
berkaitan dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan belajar. Kemudian jelas
kedudukan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar baik di kelas maupun belajar
di rumah, dibawah koordinasi guru dan juga orang tua siswa yang berkaitan
dengan belajar. Pengorganisasian pembelajaran ini dimaksudkan agar materi dan
bahan ajaran yang sudah direncanakan dapat disampaikan secara maksimal.
b.
Fungsi Pemotivasian (motivating) Pembelajaran
Motivating atau
pemotivasian adalah proses menumbuhkan semangat (motivation) pada karyawan agar
dapat bekerja keras dan giat serta membimbing mereka dalam melaksanakan rencana
untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Dalam konteks pembelajaran di
sekolah tugas pemotivasian dilakukan kepala sekolah bersama pendidik dalam
pembelajaran agar siswa melakukan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah direncanakan. Sehubungan dengan itu, peran kepala
sekolah memegang peranan penting untuk menggerakkan para guru dalam
mengoptimalkan fungsinya sebagai manajer di dalam kelas. Selain itu,
pemotivasian dalam proses pembelajaran dilakukan oleh pendidik dengan
suasana edukatif agar siswa dapat
melaksanakan tugas belajar dengan penuh antusias dan mengoptimalkan kemampuan
belajarnya dengan baik. Peran guru sangat penting dalam menggerakkan dan
memotivasi para siswanya melakukan aktivitas belajar baik yang dilakukan di
kelas, laboratorium, perpustakaan dan tempat lain yang memungkinkan siswa melakukan
kegiatan belajar. Guru tidak hanya berusaha menarik perhatian siswa, tetapi
juga harus meningkatkan aktivitas siswanya melalui pendekatan dan metode yang
sesuai dengan materi pelajaran yang disajikan guru.
c. Fungsi Facilitating Pembelajaran
Fungsi Facilitating meliputi
pemberian fasilitas dalam arti luas yakni memberikan kesempatan kepada anak
buah agar dapat berkembang ide-ide dari bawahann diakomodir dan kalau
memungkinkan dikembangkan dan diberi ruang untuk dapat dilaksanakan.28
Dalam pembelajaran pemberian fasilitas meliputi perlengkapan, sarana prasarana
dan alat peraga yang menunjang dan membantu dalam proses pembelajaran Fasilitas
yang memadai akan membantu proses hafalan para siswa, terutama media yang cocok
bagi anak-anak.
d. Fungsi Pengawasan (controling)
Pembelajaran.
Pengawasan adalah suatu
konsep yang luas yang dapat diterapkan pada manusia, benda dan organisasi. Pengawasan
dimaksudkan untuk memastikan anggota organisasi melaksanakan apa yang
dikehendaki dengan mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi serta
memanfaatkannya untuk mengendalikan organisasi. Pengawasan dalam konteks
pembelajara dilakukan oleh kepala sekolah terhadap kegiatan pembelajaran pada
seluruh kelas, termasuk mengawasi pihak-pihak terkait sehubungan dengan pemberian
pelayanan kebutuhan pembelajaran secara sungguh- sungguh. Untuk keperluan
pengawasan ini, guru mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi
kegiatan belajar, serta memanfaatkannya untuk mengendalikan pembelajaran
sehingga tercapai tujuan belajar yang telah direncanakan.30
3. Evaluasi Pembelajaran
Istilah
evaluasi berasal dari bahasa inggris yaitu “evaluation”. Menurut Wand dan
Gerald W. Brown evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi merupakan suatu upaya untuk mengetahui
berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah
diajarkan oleh guru.Evaluasi merupakan suatu upaya untuk mengetahui berapa
banyak hal-hal yang telah dimiliki oleh siswa dari halhal yang telah diajarkan
oleh guru. Evaluasi pembelajaran mencakup
evaluasi hasil belajar dan evaluasi proses pembelajaran. Evaluasi hasil belajar
menekankan pada diperolehnya informasi tentang seberapakah perolehan siswa
dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Sedangkan evaluasi
pembelajaran merupakan proses sistematis untuk memperoleh informasi tentang
keefektifan proses pembelajaran dalam membantu siswa mencapai tujuan pengajaran
secara optimal.33 Dengan demikian evaluasi hasil
belajar menetapkan baik buruknya hasil dari kegiatan pembelajaran. Sedangkan
evaluasi pembelajaran menetapkan baik buruknya proses dari kegiatan
pembelajaran.
a) Evaluasi Hasil Pembelajaran
Evaluasi hasil belajar
merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan peniliaian
dan atau pengukuran hasil belajar hasil belajar, tujuan utama evaluasi untuk
mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu
kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan yang tersebut kemudian
ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol. Apabila tujuan
utama kegiatan evaluasi hasil belajar ini sudah terealisasi maka hasilnya dapat
difungsikan untuk berbagai keperluan tertentu.
Adapun langkah-langkah evaluasi hasil
pembelajaran meliputi:
a. Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif
seringkali diartikan sebagai kegiatan evaluasi yang dilakukan pada akhir
pembahasan setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan.36
Evaluasi
ini yakni diselenggarakan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar, yang
diselenggarakan secara periodik, isinya mencakup semua unit pengajaran yang
telah diajarkan.
b.
Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah
evaluasi yang diselenggarakan oleh guru setelah jangka waktu tertentu pada
akhir semesteran. Penilaian sumatif berguna untuk memperoleh informasi tentang
keberhasilan belajar pada siswa, yang dipakai sebagai masukan utama untuk
menentukan nilai rapor akhir semester.
b) Evaluasi Proses Pembelajaran
Evaluasi proses
pembelajaran yakni untuk menentukan kualitas dari suatu program pembelajaran
secara keseluruhan yakni dari mulai tahap proses perencanaan, pelaksanaan dan
penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi ini memusatkan pada keseluruhan kinerja
guru dalam proses pembelajaran. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan
cara:
1)
Membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standard
proses.
2)
Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan
kompetensi guru.
Sebagai implikasi dari
evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan guru maupun kepala sekolah dapat
dijadikan umpan balik untuk program pembelajaran selanjutnya. Jadi evaluasi
pada program pembelajaran meliputi:
a. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan,
dibanding dengan rencana.
b. Melaporkan
penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun
standarstandar pembelajaran dan sasaran-sasaran.
c. Menilai pekerjaan
dan melakukan tindakan terhadap penyimpangan-penyimpangan baik institusional
satuan pendidikan maupun proses pembelajaran.
2. Pembelajaran al-Qur’an
1)
Dasar dan Tujuan Pembelajaran al-Qur’an
Dasar
yang dijadikan sebagai landasan untuk pembelajaran menghafal Al-Qur‟an
adalah dari nash al-Qur‟an yaitu:
a. Surat Al-Hijr ayat 9.
ÇÒÈ tbqÝàÏÿ»ptm: ¼çms9 $¯RÎ)ur tø.eÏ%!$# $uZø9¨tR ß`øtwU $¯RÎ)
“Sesungguhnya Kami-lah
yang menurunkan al-Qur’an, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”.
(QS. Al-Hijr:6)
b. Hadits
Nabi SAW:
“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)
Adapun tujuan
pembelajaran Al-Qur’an secara
terperinci yakni sebagai berikut:
a.
Siswa dapat memahami dan mengetahui arti penting dari kemampuan dalam menghafal
Al-Qur’an.
b.
Siswa dapat terampil menghafal ayat-ayat dari suratsurat tertentu dalam juz
amma yang menjadi materi pelajaran.
c.
Siswa dapat membiasakan menghafal Al-Qur’an dan supaya dalam berbagai
kesempatan ia sering melafadzkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu juga tujuan
yang terpenting yakni untuk menumbuhkan, mengembangkan serta mempersiapkan
bakat hafidz dan hafidzah pada anak, sehingga nantinya menjadi
generasi cendekiawan muslim yang hafal Al-Qur’an.
2)
Materi Pembelajaran al-Qur’an
Materi
pembelajaran adalah jabaran dari kemampuan dasar yang berisi tentang materi
pokok bahan ajar. Untuk Tahsin adalah selesai Jilid 1 dan 2 Buku Utsmani dan
mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar.
Adapun materi Tahfidz adalah mampu menghafal surat-surat dalam al-Quran
terutama Juz 29 dan 30 serta surat-surat pilihan, dan seterusnya.
3)
Metode Pembelajaran al-Qur’an
Dalam
pembelajaran al-Quran ada dua hal yang ingin dicapai yaitu siswa mampu membaca
al-Quran dengan baik dan benar atau memperbaiki bacaan siswa atau yyang disebut
dengan Tahsin dan selanjutnya siswa mampu menghafal dengan baik, benar dan
lancar atau yang dikenal dengan Tahfidz. Dalam pembelajaran dua hal ini berpadu
hanya Tahsin lebih didahulukan sebelum Tahfidz.
Ada
banyak metode Tahsin atau memperbaiki bacaan al-Quran atau belajar membaca
al-Quran, di antaranya adalah.
a. Metode
Umi
b. Metode
Qiroati
c. Metode
Iqra
d. Metode
Utsmani
Menurut
Hadari Nawawi metode mengajar adalah kesatuan langkah kerja yang dikembangkan
oleh guru berdasarkan pertimbangan rasional tertentu, masing-masing jenisnya
bercorak khas dan kesemuanya berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu. Ahsin W. al-Hafidz menyebutkan 5 metode menghafalkan Al- Qur‟an
meliputi:
a. Metode Wahdah
Metode
Wahdah yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak di hafalnya
dimana setiap ayat yang akan dihafal di baca berulang-ulang sehingga tercapai
atau terbentuk gerak reflek pada lisan, setelah benar-benar hafal kemudian di
lanjutkan ayat berikutnya.
b. Metode Kitabah
Metode
Kitabah yaitu orang yang menghafal terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan
di hafalkan kemudian ayat-ayat itu di baca hingga lancar dan benar bacaannya,
lalu di hafalkan. Dengan metode ini akan sangat membantu dalam mempercepat
terbentuknya pola hafalan dalam bayangan
c.
Metode Sama‟i
Metode
Sama‟i yaitu seorang penghafal mendengarkan suatu bacaan untuk di hafalkannya.
Metode ini dapat dilakukan dengan dua alternatif yaitu dengan mendengarkan dari
guru yang membimbingnya dan mendengarkan kaset secara seksama sambil mengikutinya
secara perlahan-lahan.
d.
Metode Gabungan
Metode
gabungan yaitu gabungan antara metode Wahdah dan Kitabah yaitu dengan cara
setelah selesai menghafal ayat yang di hafalkan, kemudian mencoba menuliskannya
di atas kertas yang telah di sediakan.
e.
Metode Jami’
Metode
Jami‟ yaitu cara menghafal yang dilakukan secara kolektif, ayat-ayat yang
dihafal di baca secara kolektif atau bersama-sama, di pimpin seorang
Instruktur. Dimana Instruktur itu membacakan satu atau beberapa ayat, dan
santri menirukan secara bersama-sama.47 Perlakukanlah
anak didik dengan metode yang baik sesuai
dengan bakat dan kepekaannya.48 Dan yang
terpenting adalah membuat rasa senang dan
nyaman anak ketika menghafal. Untuk itu
seorang guru atau ustadz harus pandaipandai mengembangkannya
dalam rangka mencari alternatif terbaik untuk
menghafal Al-Qur’an.
4) Strategi
Menghafal Al-Qur’an
Untuk membantu
mempermudah membentuk kesan dalam ingatan terhadap ayat-ayat yang dihafal, maka
diperlukan strategi menghafal yang baik. Ada beberapa strategi yang digunakan
dalam menghafal Al-Qur‟an, yaitu:
1. Strategi pengulangan ganda
Untuk mencapai tingkat
hafalan yang baik tidak cukup hanya dengan sekali proses menghafal saja, namun penghafalan
itu harus dilakukan berulang-ulang.
2.
Tidak beralih pada ayat-ayat berikutnya, sebelum ayat yang sedang dihafal
benar-benar hafal Pada umumnya, kecenderungan seseorang dalam menghafal
Al-Qur‟an ialah cepat-cepat selesai, atau cepat mendapat sebanyak-banyaknya,
dan cepat mengkhatamkannya. Sehingga ketika ada ayat-ayat yang belum dihafal
secara sempurna, maka ayat-ayat itu dilewati begitu saja, karena pada dasarnya
ayat-ayat tersebut lafadznya sulit untuk dihafal, ketika akan mengulang kembali
ayat tersebut, menyulitkan sendiri bagi penghafal. Maka dari itu usahakan
lafadz harus yang dihafal harus lancar, sehingga mudah untuk mengulangi
kembali.
3.
Menghafal urutan-urutan ayat yang dihafalkannya dalam satu kesatuan jumlah
setelah benar-benar hafal ayatayatnya Untuk mempermudah proses ini, maka
memakai Al-Qur’an yang disebut dengan Al-Qur‟an pojok akan sangat membantu.
Dengan demikian penghafal akan lebih mudah membagi sejumlah ayat dalam rangka
menghafal rangkaian ayat-ayatnya.
4.
Menggunakan satu jenis mushaf
Di antara strategi
menghafal yang banyak membantu proses menghafal Al-Qur‟an ialah menggunakan
satu jenis mushaf, walaupun tidak ada keharusan menggunakannya. Hal ini perlu
diperhatikan, karena bergantinya penggunakaan satu mushaf kepada mushaf lain
akan membingungkan pola hafalan dalam bayangannya. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa aspek visual sangat mempengaruhi dalam pembentukan hafalan baru.
5.
Memahami (pengertian) ayat-ayat yang dihafalnya
Memahami pengertian,
kisah atau asbabun nuzul yang terkandung dalam ayat yang sedang dihafalnya
merupakan unsur yang sangat mendukung dalam mempercepat proses menghafal Al-Qur’an.
6.
Memperhatikan ayat-ayat yang serupa
Ada beberapa ayat yang
hampir sama, di mana sering terbolak-balik. Kalau penghafal tidak teliti dan
tidak memperhatikan, maka dia akan sulit menghafalkannya.
7.
Disetorkan pada seorang pengampu
Menghafal al-Qur‟an
memerlukan adanya bimbingan yang terus menerus dari seorang pengampu, baik
untuk menambah setoran hafalan baru, atau untuk takrir, yakni mengulang
kembali ayat-ayat yang telah disetorkannya terdahulu. Dengan strategi
mengahafal yang baik dalam proses pembelajaran menghafal Al-Qur‟an maka tujuan
pembelajaran menghafal Al-Qur‟an tercapai.
5)
Alat dan Sumber Pembelajaran al-Qur’an
Alat pembelajaran
adalah alat bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran guna membantu untuk
mencapai suatu tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Sumber adalah sesuatu
yang dapat digunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran itu didapat atau
asal untuk belajar seseorang.51 Alat dan sumber
pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an di antaranya
adalah alat multimedia seperti: (a) komputer/laptop beserta infocus; (b)
televisi dan VCD Player; (c) Tape dan kaset atau CD; (d) Proyektor atau
OHP. Buatlah bagan, dengan menggunakan power point untuk diproyeksikan
lewat infocus atau ditransparansi untuk diproyeksikan melalui OHP, namun
jika tidak ada bisa langsung dengan dibuatkan di papan tulis. Jika tidak ada,
guru dapat memanfaatkan papan tulis dan beberapa spidol dengan bermacam warna.
Alat penutup untuk menutupi teks arabnya, dapat menggunakan penggaris kayu atau
kertas.
Untuk
sumber pembelajarannya gunakanlah mushaf Juz am‟ma atau Mushaf bahriah, yang
sangat praktis digunakan saat menghafal Al-Qur‟an.
3.
Teori Menghafal
Kata menghafal dapat
disebut juga sebagai memori, dimana apabila mempelajarinya maka membawa kita
pada psikologi kognitif, terutama pada model manusia sebagai pengolah
informasi. Menurut Atkinson yang dikutip oleh Sa‟dullah mengatakan proses
menghafal melewati tiga proses yaitu:54
1. Encoding (Memasukan informasi
ke dalam ingatan)
Encoding adalah
suatu proses memasukan datadata informasi ke dalam ingatan. Proses ini melalui
dua alat indera manusia, yaitu penglihatan dan pendengaran. Kedua alat indra yaitu
mata dan telinga, memegang peranan penting dalam penerimaan informasi sebagaimana
informasi sebagaimana banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur‟an, dimana penyebutan
mata dan
telinga selalu beriringan.
2. Storage (Penyimpanan)
Storage adalah
penyimpann informasi yang masuk di dalam gudang memori. Gudang memori terletak
di dalam memori panjang (long term memory). Semua informasi yang
dimasukkan dan disimpan di dalam gudang memori itu tidak akan pernah hilang.
Apa yang disebut lupa sebenarnya hanya kita tidak berhasil menemukan kembali
informasi tersebut di dalam gudang memori.
3. Retrieval (Pengungkapan
Kembali)
Retrieval adalah
pengungkapan kembali (reproduksi) informasi yang telah disimpan di dalam gudang
memori adakalanya serta merta dan adakalanya perlu pancingan. Apabila upaya
mengingat kembali tidak berhasil walaupun dengan pancingan, maka orang
menyebutnya lupa. Lupa mengacu pada ketidakberhasilan kita menemukan informasi
dalam gudang memori, sungguhpun ia tetap ada disana. Selanjutnya, menurut
Atkinson dan Shiffrin sistem ingatan manusia dibagi menjadi 3 bagian yaitu: pertama,
sensori memori (sensory memory); kedua, ingatan jangka pendek (short
term memory); dan ketiga, ingatan jangka panjang (long term
memory). Sensori memori mencatat informasi atau stimulus yang masuk melalui
salah satu atau kombinasi panca indra, yaitu secara visual melalui mata,
pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah dan rabaan
melalui kulit. Bila informasi atau stimulus tersebut tidak, diperhatikan akan
langsung terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer
ke system ingatan jangka pendek. Sistem ingatan jangka pendek menyimpan informasi
atau stimulus selama ± 30 detik, dan hanya sekitar tujuh bongkahan informasi (chunks)
dapat dipelihara dan disimpan di sistem ingatan jangka pendek dalam suatu
saat. Setelah berada di sistem ingatan jangka pendek, informasi tersebut dapat
ditransfer lagi melalui proses rehearsal (latihan/pengulangan) ke system
ingatan jangka panjang untuk disimpan, atau dapat juga informasi tersebut
hilang atau terlupakan karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi
yang baru.55 Bagi seorang tenaga pengajar atau
guru, pengetahuan ini sangat bermanfaat karena membantu dalam memonitor dan
mengarahkan proses berfikir peserta didik. Dalam pembelajaran menghafal
Al-Qur‟an, sejak dini anak perlu dilatih menghafal atau mengingat secara
efektif dan efisien. Latihan-latihan tersebut menurut Gie, meliputi 3 hal
yaitu: pertama, recall, anak dididik untuk mampu mengingat materi
pelajaran di luar kepala; kedua, recognition anak dididik untuk mampu
mengenal kembali apa yang telah dipelajari setelah melihat atau mendengarnya;
dan ketiga, relearning: anak dididik untuk mampu mempelajari
kembali dengan mudah apa yang pernah dipelajarinya. Dalam pembelajaran
menghafal Al-Qur‟an Madrasah Ibtidaiyah, tahap yang dilakukan adalah murid
diupayakan untuk sampai pada tingkat recall, yakni murid mampu
menghafalkan Al-Qur‟an di luar kepala.
BAB
III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran al-Quran di era sekarang dengan
segala kemudahan yang didapat membutuhkan pengelolaan yang baik, menyangkut,
siswa, guru, metode, media, materi, target, pengelolaan kelas dan semua itu
tidak lepas dari Manajemen yang diterapkan dalam pembelajaran Al-Quran, yang
terdiri dari Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi.
Pembelajaran
Al-Quran menyangkut dua hal yaitu Tahsin, yaitu mengajarkan mampu membaca
al-Quran dengan baik dan benar. Kemudian Tahfidz yaitu mengajarkan siswa
menghafal dengan benar dan lancar.
B. Saran
Dari uraian
dan simpulan, maka saran yang ingin penulis sampaikan adalah hendaknya guru dan
orangtua bersemangat serta menyemangati siswa dalam menghafal dan belajar
al-Quran terutama di waktu kecil.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Majid,
Perencanaan Pembelajaran : Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, 2005, Bandung:
Remaja Rosdakarya
Departemen
Agama RI, 1971, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta: Departemen Agama
RI
Efendi Anwar,
2010, Buku Utsmani 3, Jakarta
Undang-Undang RI
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan.
Permendiknas
Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses
Tidak ada komentar:
Posting Komentar